Kamis, 22 Oktober 2009

Anak-anak

Duh, anak-anak susahnya untuk dimengertikan. Rasa kesal sering mengintip di balik hati ini. Tapi, segera hilang ketika menyadari bahwa mereka adalah bagian dari hidupku, yang sering memberi senyum, tawa, dan haru. Istri sering mengingatkan tentang sikap apa yang harus saya lakukan ketika anak-anak tidak bisa dimengertikan...

Ibu saya juga sering komentar atas sikap cucunya itu. Tapi komentarnya positif. Kadang sering mengambil penggalan sejarah masa lalu. Misalnya, "Kamu juga waktu kecil begitu...". Saya hanya tersenyum kecil. Ya, kata pepatah, apel tidak akan jauh dari pohonnya. Lalu, kadang saya merenung dan berkata-kata di hati, "bisa saja orangtua saya lebih kesal atas sikap yang sulit dimengertikan itu...". Oh....

Waktu yang sulit untuk mengertikan anak-anak yaitu di pagi hari dan malam hari. Pagi hari, kadang-kadang sulit menyadarkan mereka untuk terbiasa ke sekolah tanpa ada perintah dari ibunya. Juga sulit untuk makan sendiri. Yang parah, seringkali meminta saya untuk membantu mereka, mulai mandi, makan, sampai mengantar ke sekolah. Akhirnya, tugas yang seharusnya sudah tersiapkan di pagi hari terbengkalai. Atau, seharusnya pagi menata ulang apa yang dipersiapkan semalam untuk di bawa kerja, juga tidak maksimal. Belum lagi kalau pas datang sekolah, anak kedua minta ditunggu. Kalau tidak nangis sejadi-jadinya. Nah, kondisinya ini yang sering memunculkan kekesalan. Meski sering dikatakan dengan lembut bahwa saya mau kerja dan alasan lainnya, tetap saja tidak mau. Kalu sudah begini, mmmh...rasanya ingin nangis. Tersiksa tidak bisa apa-apa...Parahnya, kalau diantar sama ibunya sering tidak mau.

Di malam hari, saat serius sedang membaca, menulis, atau mengerjakan tugas, tiba-tiba anak merengek untuk dikelon. Lagi-lagi, selalu sama Abinya.... Sudah dimengertikan, tapi sulitnya minta ampun. Dan akhirnya mengalah. Sialnya, saat mengelon itulah kantuk datang dan tertidur pulas... So, tugas tidak dikerjakan.

Di mana istri? Istri terlalu sibuk mengurus si bungsu. Saya kadang memiliki perasaan yang teramat kasihan kepadanya. Pagi, dia harus membereskan apa yang perlu dibereskan. Mulai dari mencuci, masak, dan segala-gala.... Terlihatnya lelah.

Akhirnya, untuk sementara apa yang dilakukan perlu ada perubahan. Tugs tidak perlu ditunda untuk dikerjakan. Lalu, pembagian peran perlu dipertegas. Sehingga saling melengkapi.....Semoga yang saya lakukan tetap berpahala, untuk bekal di hari akhir nanti. Amin....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar